Nama   : Ramadhini Rizkiyah (I14100051)

Laskar 29 (Djoehana Wiradikarta)

CERITA INSPIRASI

Berikut ini akan saya lampirkan cerita, yang ceritanya mungkin akan memotivasi dan menginspirasi sesuatu bagi siapa saja yamg membaca ataupun mendengarkan cerita ini. Sebelumnya, nama  saya adalah Ramadhini Rizkiyah, saya berasal dari Jakarta. Saya merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Saya masuk ke IPB ini mengambil jurusan Ilmu Gizi, Fakultas Ekologi Manusia.

Tugas Cerita 1:

“MISKIN? SIAPA TAKUT!!”

Miskin? Siapa Takut!! Saya pernah dengar kata-kata ini diucapkan oleh salah seorang pengusaha sukses. Pengusaha sukses ini sudah pensiun sekarang dari kegiatan usahanya, semua usahanya diserahkan pada orang kepercayaannya dan tiap bulannya ia menerima pasif income. Nah, apa prinsip sukses yang ia jalankan dalam meraih sukses?

Ia sendiri dulunya berlatar belakang bukanlah dari keluarga kaya. Jauh malah. Orang tuanya seorang penjual kue keliling, ia sendiri tidak tamatan kuliah, malah cuma tamat SMP. Masa kecilnya besar di jalanan, bekerja mencari uang seumur anak SMP, dengan menjadi kernet angkot. Sampingan lainnya adalah menggali parit. Ini ia jalankan di masa kecilnya. Namun sekarang telah menjadi pengusaha sukses, yang malah sudah tidak aktif lagi dalam kegiatan usaha, namun berpenghasilan pasif income. Ini yang namanya usaha jalan, pemiliknya jalan-jalan. Ya, itulah nikmatnya jadi pengusaha sukses. Nah, bagaimana kisahnya dan prinsip yang ia pegang sehingga bisa mengubah kehidupannya dari anak jalanan menjadi pengusaha sukses? Mari kita ikuti kisah singkat perjalanan suksesnya.

Semasa kecil, dengan bermodalkan “bosan pada kemiskinan”, ia bekerja keras. Namun, ia tau kalau hanya dengan menjadi kernet angkot dan penggali parit, tentunya tidak akan mengubah nasibnya. Ia sadar, bahwa manusia mengubah nasib, bukan nasib digariskan oleh yang maha kuasa. Nasib bisa diubah. Nasib juga bukan bawaan keturunan. Ia bekerja menjadi pegawai di sebuah toko baju. Ia bekerja keras, bekerja rajin. Namun, ia bekerja bukan untuk mencari uang, melainkan ingin mendapatkan pengalaman, pengetahuan dan kenalan. So, gaji tidak menjadi prioritas utamanya. Ia tau kalau syarat untuk sukses, haruslah bekerja keras. Ia sambil bekerja, sambil membangun network.

Setelah beberapa tahun bekerja, dan membangun network, akhirnya ia berani membuka toko baju. Tanpa modal!! Toko pertama yang ia buka dengan tanpa modal sendiri itu pun berjalan maju. Ia memulai usaha dengan pengalaman bekerja yang telah ia lalui. Dari satu toko, mulailah menambah cabang menjadi 2 toko. Namun, suatu hari kebakaran melanda kompleks pertokoan yang meludeskan kedua tokonya. Namun, ia tidak kecewa. Prinsip yang selalu ia pegang adalah Ia tidak takut miskin alias berani miskin. Ia sudah pernah mengalami kehidupan yang amat miskin, jadi kalaupun toh ia gagal, ia sudah tau bagaimana kehidupan miskin itu, jadi ia memutuskan harus kaya. Prinsipnya yang tidak takut miskin alias berani miskin inilah yang membuatnya berani berbisnis.

Ia pun membuka toko baju di tempat lainnya. Namun, malang lagi, setelah beberapa tahun berjalan, tahun 1998 terjadi kerusuhan Mei 1998 di Palembang. Toko baju yang rame miliknya itu pun menjadi korban penjarahan besar-besaran. Isi toko ludes semua dibawa para penjarah. Namun, dengan prinsip tidak takut miskin, ia pun mencoba lagi. Ia terus mencoba berwirausaha, dan akhirnya singkat cerita sekarang ini telah menjadi wirausaha sukses. Pengusaha sukses pemilik berbagai usaha di Palembang ini juga telah membuktikan bahwa latar belakang masa kecil yang susah bisa berubah asalkan mau berusaha keras. Tidak ada Nasib yang tidak bisa diubah. Jangan pernah takut miskin. Makin takut miskin akhirnya malah jadi miskin. Berani miskin malah gak miskin-miskin. Mau juga jadi pengusaha sukses? Terus lah berusaha dan jangan mudah menyerah (putus asa) dengan kondisi yang ada. Usaha mu adalah sukses mu!

Tugas Cerita 2:

“KESEMPATAN TIDAK DATANG DUA KALI”

Disini saya akan kembali menceritakan sebuah cerita, namun kali ini saya tidak menceritakan orang lain, tetapi disini saya akan menceritakan tentang diri saya sendiri. Cerita saya ini mengenai sebuah pengalaman yang yang menjadi guru bagi saya.

Sekitar bulan November 2009, kedua orang tua saya melakukan ibadah haji bersama. Tak lama setelah itu, di sekolah, guru bimbingan konseling saya mengabarkan bahwa pendaftaran USMI telah dibuka. Dengan antusias saya meminta formulir USMI tersebut.

Nah, pada bagian pengisian biaya pendidikan terdapat dua formulir 2A untuk yang mampu dan formulir 2B untuk yang kurang mampu.

Karena orang tua saya sedang ibadah haji, jadilah saya mengurus semua berkas-berkas itu sendirian. Pada saat itu juga bertepatan dengan UAS di sma. Saya repot harus mengurus berkas-berkas yang diperlukan dan tetap harus belajar dengan baik agar nilai UAS saya pun nantinya tidak mengecewakan.

Awalnya saya ingin mengisi formulir 2B karena saya berasal dari keluarga yang kurang mampu (kedua orang tua saya pergi haji dengan tabungan yang sudah mereka persiapkan sejak lama dan disetorkan ke bank khusus untuk biaya haji, jadi tak mungkin juga bisa ditarik lagi hanya untuk biaya masuk kuliah saya), tetapi saya harus membuat surat keterangan tidak mampu. Saya tidak pernah mengurus surat seperti itu, ayah lah yang biasanya mengurus surat tersebut hingga ke kelurahan. Alhasil, saya mengisi formulir 2A dengan memilih batas tenggang waktu yang terlama, 4 kali pembayaran.

Setelah hasil USMI keluar dan alhamdulillahnya saya masuk, orang tua saya langsung sibuk mengumpulkan uang untuk pembayaran uang kuliah yang pertama. Beberapa bulan kemudian, saya mengikuti group USMI di facebook dan melihat ada topic diskusi yang membahas mengenai hasil beasiswa bidik misi. Penasaran, saya pun mencari di google tentang beasiswa tersebut. Betapa terkejutnya saya melihat penjelasan mengenai beasiswa bidik misi. Kemudian saya menceritakan kepada orang tua bahwa ada beasiswa yang luar biasa seperti itu.

Diluar dugaan orang tua saya malah memarahi saya “bisa-bisanya tidak tahu ada beasiswa seperti itu”. Saya pun menjelaskan keadaan yang terjadi pada saat itu. Orang tua saya pun dengan nada sedih berkata, “Seandainya saja pada waktu itu kamu mencari tahu, sedikit berusaha memenuhi segala persyaratan, dan mendaftarkan diri untuk mengikuti beasiswa bidik misi, mungkin kamu juga bias memperoleh beasiswa tersebut, nak.”

Bukan main sedihnya perasaan saya saat itu. Hanya karena malas mengurus surat keterangan tidak mampu ke rt, rw, dan kelurahan saja saya akhirnya kehilangan beasiswa yang luar biasa tersebut.

Dari pengalaman ini saya belajar bahawa hidup adalah perjuangan. Kita tidak bisa bermalas-malasan, karena itu hanya akan merugikan diri kita sendiri. Yang terpenting adalah kesempatan itu tidak datang dua kali. Satu detik saja kamu melalaikan kesempatan yang ada hanya karena masalah kecil yang sesungguhnya bisa kamu atasi sendiri asalkan kamu mau sedikit saja berusaha untuk mengubah nasib dan masa depan mu maka jangan pernah berharap waktu akan kembali berputar ke waktu tersebut hanya untuk diri mu.

May 2014
S M T W T F S
« Sep    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031